“Smartpreneur & Future Retail: Sinergi Al, Ekonomi Digital, dan Inovasi Bisnis Menuju Indonesia Emas 2045” – SEMINAR Prodi FEB Universitas Raharja

Tangerang, 18 Desember 2025 – Aula Universitas Raharja menjadi saksi antusiasme ratusan mahasiswa dalam mengeksplorasi masa depan ekonomi Indonesia. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sukses menyelenggarakan seminar kolaboratif tiga program studi: Manajemen Retail (MR), Bisnis Digital (BISDI), dan Kewirausahaan (KWH). Seminar bertajuk “Smartpreneur & Future Retail: Sinergi AI, Ekonomi Digital, dan Inovasi Bisnis Menuju Indonesia Emas 2045” ini menghadirkan para pakar dan praktisi untuk membedah tantangan industri di era kecerdasan buatan.

Pembukaan yang Inspiratif

Acara dipandu dengan apik oleh Miss Arsy selaku MC. Kehadirannya mampu membangun suasana yang interaktif sejak awal, menjembatani dialog antara audiens dan para pemangku kepentingan akademik yang hadir.

Rangkaian acara dimulai dengan sambutan dari Bapak Muhamad Yusup, M.Kom., selaku Ketua Program Studi Bisnis Digital. Dalam pesannya, beliau menekankan bahwa integrasi teknologi digital bukan lagi sebuah opsi, melainkan tulang punggung bagi model bisnis modern. Beliau berharap seminar ini menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk tidak hanya menjadi penonton dalam disrupsi digital, tetapi menjadi aktor utama yang menciptakan peluang bisnis baru.

Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Henderi, S.Kom., M.Kom., selaku Wakil Rektor Universitas Raharja, memberikan sambutan sekaligus membuka acara secara resmi. Beliau memaparkan visi universitas dalam mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan global. “Dunia kerja saat ini membutuhkan individu yang adaptif. Sinergi antara AI dan Ekonomi Digital yang kita bahas hari ini adalah kunci menuju Indonesia Emas 2045,” tegas beliau.

Transformasi Ritel dan Kekuatan AI

Memasuki sesi inti, Dr. Ir. Mochammad Heru Riza Chakim, M.M. (Ketua DPN APTMRI) bertindak sebagai moderator, mengarahkan jalannya diskusi bersama narasumber utama, ADV. Dr. H. Solihin, S.H., M.H., yang merupakan Ketua Umum APRINDO.

1. Evolusi Ritel Modern Bapak Solihin membedah fenomena di mana dunia ritel sedang mengalami perubahan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beliau menggarisbawahi empat transformasi besar:

  • Pergeseran Paradigma: Ritel tidak lagi sekadar toko fisik, melainkan pengalaman berbelanja yang melintasi batas antara dunia nyata dan digital (omnichannel).

  • Data sebagai Bahan Bakar: Digitalisasi dan pengolahan data besar (Big Data) kini mengubah total strategi cara berjualan dan memahami keinginan konsumen.

  • Implementasi AI: Kecerdasan Buatan mulai dioptimalkan dalam skala luas, mulai dari manajemen logistik yang lebih akurat, layanan pelanggan yang lebih personal melalui chatbot, hingga pemasaran prediktif.

  • Dinamika Konsumen: Perilaku konsumen saat ini sangat dinamis, menuntut kecepatan, transparansi, dan kemudahan dalam setiap transaksi.

2. Mengatasi Gap Kompetensi SDM Satu hal yang menjadi sorotan tajam adalah masalah Sumber Daya Manusia (SDM). Terdapat empat tantangan utama SDM ritel di Indonesia:

  • Terjadinya kesenjangan kompetensi antara lulusan institusi pendidikan dengan standar yang dibutuhkan industri.

  • Industri memerlukan tenaga kerja yang memiliki digital skill sekaligus mentalitas adaptif.

  • Ijazah formal saja tidak lagi cukup tanpa didampingi oleh standar kompetensi yang diakui secara profesional.

  • Pentingnya penguatan acuan nasional agar tercipta link & match yang sempurna antara kurikulum kampus dan kebutuhan dunia kerja.

 

SKKNI dan KKNI

Sebagai penutup materi, dipaparkan mengenai pentingnya SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) dan KKNI di bidang Ritel Modern. Sejak tahun 2018-2019, standar ini telah menjadi fondasi kompetensi yang mencakup manajemen operasional toko, layanan pelanggan yang unggul, hingga pengelolaan inventori dan merchandising. Penggunaan standar ini oleh industri, SMK, maupun Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) adalah kunci agar lulusan Universitas Raharja memiliki daya saing yang tinggi.

Penutup dan Kesimpulan

Seminar diakhiri dengan sesi tanya jawab yang produktif, di mana para mahasiswa menunjukkan ketertarikan tinggi pada bagaimana AI dapat membantu usaha kecil mereka berkembang menjadi bisnis berskala nasional. Kesimpulan besar dari seminar ini adalah bahwa perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan sinergi yang kuat antara pemahaman teknologi AI, semangat kewirausahaan (entrepreneurship), dan penguasaan standar kompetensi industri. Mahasiswa FEB Universitas Raharja diharapkan mampu bertransformasi menjadi Smartpreneur yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kompeten secara praktis di lapangan.

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

Leave a comment