Nama : Hilma Aulia Daffa
NIM : 2581494366
- Mengidentifikasi ancaman dan kerentanan siber umum yang dihadapi bisnis digital.
Jujur saja, makin ke sini aku makin sadar kalau banyak bisnis digital itu ibarat membangun rumah mewah tapi pintunya cuma pakai selot murah. Fokusnya cuma di inovasi dan cuan, tapi pertahanannya keropos. Menurut pengamatanku begini realitanya, tidak selamanya serangan itu canggih banyak yang mikir serangan siber itu selalu soal kode-kode rumit ala film hacker. Padahal, musuh terbesarnya justru kecerobohan kita sendiri. Saat ini phishing masih jadi juara karena mereka tidak menyerang sistem, tapi menyerang psikologis orangnya. Lalu ada ransomware yang benar-benar bisa bikin operasional mati total. Masalahnya sepele banyak bisnis yang malas update software atau pakai konfigurasi server yang asal yang penting jalan. Dan inilah celah yang paling disukai peretas.
- Mengevaluasi dan menerapkan kontrol keamanan mendasar untuk jaringan, aplikasi, dan data.
Membangun benteng tanpa harus mahal? aku mikirnya gini tidak perlu langsung beli tool keamanan harga selangit kalau dasarnya saja belum beres. Kita hanya butuh yang namanya pertahanan berlapis. Di level jaringan firewall dan segmentasi itu wajib. Jangan sampai satu bagian kena, semuanya ikutan ambruk. Lalu buat data enkripsi itu benteng terakhir. Mau data itu lagi dikirim atau disimpan pokoknya jangan sampai bisa dibaca orang asing. Dan yang paling krusial tapi sering disepelekan yaitu MFA (Multi Factor Authentication). Menurutku ini cara paling murah tapi paling ampuh buat nahan akses ilegal.
- Menganalisis implikasi keamanan dari teknologi yang muncul seperti komputasi awan dan IoT.
Cloud dan IoT dua teknologi ini memang bikin kerja jadi efisien, tapi ada jebakanya kalau kita ngga waspada. Di Cloud, sering banget ada salah kaprah. Mentang-mentang pakai layanan raksasa, kita pikir semuanya sudah aman. Padahal penyedia cuma jaga rumahnya tapi isinya tetap tanggung jawab kita. IoT malah lebih ngeri lagi. Perangkat kayak CCTV atau sensor pintar sering banget punya standar keamanan rendah. Kalau ngga diisolasi, satu lampu pintar yang kena retas bisa jadi pintu masuk buat jebol seluruh jaringan kantor.
Untuk kesimpulan singkatnya setelah aku pelajari, keamanan siber itu bukan soal mencapai titik aman 100% kenapa? karena itu mustahil. Ini lebih ke soal proses belajar yang ngga ada habisnya buat meminimalisir risiko. Sebagai mahasiswa, aku merasa ini bukan cuma soal teknis, tapi soal tanggung jawab etis buat menjaga ekosistem digital kita ke depannya.
Terima Kasih^^
