Assigment_BD303I/BD303Z/BD303IP – Hash 2025/2026_Dimas_Aditya_Prabowo

Pertanyaan :

Sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran dan pengalaman industri di OCBC, kalian diminta untuk menyusun dan membagikan refleksi kegiatan sebagai berikut:

1.⁠ ⁠CERMI (Cerita Mini) Kegiatan di OCBC

Tuliskan refleksi pribadi mengenai pengalaman kalian selama mengikuti kegiatan di OCBC. Seperti:

Deskripsi singkat kegiatan yang dilakukan.

Hal-hal baru yang dipelajari atau pengalaman menarik yang didapat.

Nilai atau pelajaran yang bisa diambil untuk pengembangan diri dan karier.

Kesimpulan/refleksi pribadi: bagaimana kegiatan ini berpengaruh terhadap cara pandang atau pemahaman kalian tentang dunia kerja dan bisnis digital.

Wajib ada foto maupun video

2.⁠ ⁠Story Instagram (Video Kegiatan Singkat)

Buat video dokumentasi singkat (maksimal 1 menit) yang menampilkan momen kegiatan kalian di OCBC.

Video bisa berupa:

Cuplikan aktivitas kalian selama kegiatan.

Keseruan bersama tim atau rekan kerja.

Pesan singkat atau kesan kalian tentang kegiatan tersebut.

 Wajib tag akun: @universitasraharja , @alphabet.incubator , @bisdiur

 Pastikan video terlihat menarik, informatif, dan tetap sopan.

3.⁠ ⁠Q&A (Pertanyaan dan Jawaban)

Buat minimal 1 pertanyaan dan jawabannya yang berkaitan dengan pengalaman kegiatan kalian ke narasumber.
Status : 100%
Keterangan : Saya telah mengerjakan tugas ini dengan baik dan benar

Jawab

Pada Kamis, 9 Oktober 2025, mahasiswa Universitas Raharja mengikuti kegiatan Sharing Santai #213 bertajuk “KPR Nggak Harus Jadi Beban, Kita Usahakan Bareng!” yang diselenggarakan secara offline di Ruang MeNyala, Hall B Lantai 3, OCBC Space BSD. Kegiatan diawali dengan registrasi melalui scan barcode Ruang MeNyala di dan absensi kehadiran menggunakan HadirkuGo.

Setelah proses registrasi selesai, peserta diarahkan memasuki ruangan acara. Tepat pukul dua siang, kegiatan dimulai dengan pemutaran film pendek berjudul “Kita Usahakan Rumah Itu” yang merupakan kolaborasi OCBC bersama Sal Priadi dan disutradarai oleh Yandi Laurens. Film ini menyampaikan pesan bahwa rumah tidak sekadar bangunan fisik, melainkan ruang yang penuh makna tempat terciptanya kenangan bersama orang-orang tercinta.

Usai pemutaran film, acara dilanjutkan dengan sesi utama bersama tiga narasumber, yaitu Devie Fibtarica selaku Business Development & Mortgage Ringkas, Ade Rahma Ilhami selaku Personal Lending Cluster Head OCBC, serta Senny Chendra selaku Bancassurance Advisory OCBC. Mereka membahas secara terbuka realita kepemilikan rumah bagi generasi muda. Harga rumah yang meningkat tajam sejak awal 2010-an membuat banyak anak muda merasa sulit mewujudkan rumah pertama. Walaupun pertumbuhan harga rumah saat ini melambat menjadi sekitar 1,4% per tahun, kesenjangan dengan pertumbuhan gaji yang rata-rata hanya 4,9% tetap membuat generasi muda kesulitan mengejar daya beli.

Para pembicara juga mengulas bagaimana memilih rumah sesuai kebutuhan dan anggaran. Tidak cukup hanya mempertimbangkan lokasi, tetapi juga kemampuan finansial agar cicilan tidak mengorbankan kebutuhan penting lain. Tips menjaga kondisi finansial tetap sehat juga dibagikan, mulai dari menyusun perencanaan sebelum mengambil KPR, menyiapkan dana darurat, hingga menentukan prioritas jangka panjang.

Sesi materi menjadi semakin menarik dengan pembahasan seputar mitos dan fakta KPR. Selama ini banyak beranggapan bahwa KPR memerlukan uang muka besar serta proses pengajuan yang rumit. Namun, faktanya kini tersedia program KPR dengan DP ringan bahkan nol persen sesuai kebijakan Bank Indonesia, serta proses digital yang mempermudah generasi muda dalam mengajukan kepemilikan rumah.

Pada sesi tanya jawab, mahasiswa Universitas Raharja aktif memberikan pertanyaan seputar bunga KPR, pengaruh inflasi terhadap cicilan jangka panjang, bonus yang dapat membantu pembayaran, hingga strategi menabung sebelum memulai KPR. Diskusi berlangsung interaktif dan memberikan gambaran nyata mengenai tantangan sekaligus solusi yang dapat ditempuh.

Melalui kegiatan ini, Saya mendapatkan pemahaman baru bahwa memiliki rumah bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi juga perjalanan hidup yang membutuhkan strategi dan literasi keuangan. Tantangan berupa gap antara harga rumah dan pertumbuhan gaji memang nyata, tetapi dengan perencanaan matang, manajemen keuangan yang baik, dan dukungan program perbankan, impian memiliki rumah tetap bisa diusahakan.

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

Leave a comment