Hari keempat dimulai dengan suasana hangat di asrama. Kami sarapan bersama, bercanda, dan saling menyemangati. Energi pagi itu terasa berbeda, mungkin karena kami tahu perjalanan hari ini akan panjang sekaligus seru.

Sekitar pukul 8 pagi, bus yang akan membawa kami sudah siap. Dalam perjalanan menuju Putrajaya, salah satu dosen kami memberikan penjelasan tentang sistem pemerintahan Malaysia. Ternyata, Malaysia adalah negara monarki konstitusional dengan sistem federal, terdiri dari 13 negara bagian dan 3 wilayah federal. Hal yang menarik, kepala negara Malaysia adalah Yang di-Pertuan Agong, seorang raja yang dipilih dari sembilan Sultan secara bergilir setiap lima tahun. Sistem ini disebut monarki elektif, dan hanya sedikit negara di dunia yang menerapkannya. Penjelasan ini membuat kami semakin penasaran melihat langsung pusat pemerintahan Malaysia.
Begitu memasuki kawasan Putrajaya, pemandangan langsung berubah. Jalanan lebar, gedung-gedung modern dengan arsitektur bergaya Islam, serta tata kota yang tertata rapi menyambut kami. Masjid Putra yang ikonik dengan kubah merah mudanya terlihat anggun di tepi danau buatan. Kami sempat berhenti untuk berfoto di depan masjid ini, dan rasanya seperti berada di kartu pos yang hidup. Tak jauh dari sana berdiri megah Perdana Putra, kantor Perdana Menteri Malaysia, dengan gaya arsitektur perpaduan Islam dan Eropa.
Melihat langsung Putrajaya membuat kami benar-benar mengerti mengapa kota ini disebut sebagai “jantung pemerintahan” Malaysia. Semua terasa modern, namun tetap menyimpan sentuhan budaya.
Setelah puas mengeksplorasi Putrajaya, perjalanan dilanjutkan menuju Melaka, kota yang kaya sejarah dan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Dunia sejak 2008. Perjalanan sekitar dua jam terasa menyenangkan, apalagi begitu sampai kami disambut dengan semangkuk cendol khas Melaka. Es serut, santan, gula merah, dan kacang hijau berpadu sempurna, menghapus rasa panas dan lelah.

Tujuan utama kami di Melaka adalah Bukit St. Paul, sebuah situs bersejarah yang menyimpan banyak cerita. Untuk mencapainya, kami harus mendaki tangga yang cukup curam, tapi setiap langkah terbayar ketika sampai di puncak. Di atas bukit terdapat reruntuhan Gereja St. Paul yang dibangun oleh Portugis pada 1521. Bangunan yang dulunya bernama Our Lady of the Hill ini pernah menjadi tempat ibadah penting, gudang mesiu saat Belanda menguasai Melaka, hingga tempat peristirahatan sementara jenazah para bangsawan Eropa.
Di sekitar gereja masih terlihat batu nisan tua dengan ukiran kuno, menghadirkan suasana sakral dan penuh sejarah. Dari puncak bukit, pemandangan Kota Melaka dan Selat Malaka terlihat begitu indah. Sulit membayangkan bahwa perairan yang tenang itu dulu menjadi jalur perdagangan tersibuk di dunia dan saksi perebutan kekuasaan oleh bangsa-bangsa Eropa.
Usai menikmati suasana sejarah, kami makan siang bersama, lalu mencoba kuliner khas lainnya: asam pedas pari. Rasanya luar biasa—pedas, asam, gurih, dan segar—meski harganya agak mahal.
Menjelang malam, kami kembali ke asrama. Lelah tentu saja, tapi hati dipenuhi kesan mendalam. Hari ini bukan hanya tentang melihat tempat indah, tapi juga tentang memahami sejarah dan budaya Malaysia. Putrajaya mengajarkan tentang modernitas yang berpadu dengan tradisi, sementara Melaka mengingatkan kami pada perjalanan panjang sebuah peradaban.
Hari keempat ini akan selalu Prima kenang sebagai hari di mana perjalanan bukan sekadar berpindah tempat, tapi juga bertambahnya wawasan dan pengalaman yang berharga.
