Akuntansi Manajemen 2025/2026

Cermi: Sharing Santai #214 — Product Development & Minimum Viable Product (MVP)

Pada Kamis, 4 Desember 2025, saya berkesempatan mengikuti acara Sharing Santai #214 yang mengangkat tema Product Development & Minimum Viable Product (MVP). Acara ini menghadirkan narasumber luar biasa, Dr. Nurhafizah Binti Mahri, seorang Assistant Professor yang memiliki pengalaman luas dalam pengembangan produk dan inovasi digital.

Sesi ini berlangsung secara hybrid di Blue Ocean Universitas Raharja dan juga melalui Zoom, sehingga memberikan kesempatan bagi banyak peserta dari berbagai daerah untuk ikut bergabung. Saya mengikuti sesi ini secara daring dari Indonesia pada pukul 14.00 WIB.


Refleksi Pembelajaran

Mengikuti sharing ini memberikan banyak wawasan baru bagi saya, terutama mengenai bagaimana proses pengembangan produk yang efektif seharusnya dilakukan. Biasanya, ketika kita memikirkan produk, yang terbayang adalah hasil akhirnya—barang atau aplikasi yang sudah jadi. Namun melalui pemaparan Dr. Nurhafizah, saya mulai memahami bahwa sebuah produk tidak langsung “jadi”. Ada proses panjang, terstruktur, dan penuh iterasi yang harus dilalui.

1. Pentingnya Memahami Masalah Sebelum Membuat Solusi

Satu hal yang sangat ditekankan adalah bahwa produk yang baik selalu dimulai dari masalah yang nyata. Bukan dari ide yang terlihat keren, bukan dari fitur yang sedang tren, tetapi dari kebutuhan pengguna yang benar-benar ada. Hal ini mengingatkan saya bahwa kadang kita terlalu sibuk memikirkan fitur, namun lupa mengecek apakah itu benar-benar dibutuhkan.

2. Konsep MVP: Mulai dari Yang Paling Penting

Dr. Nurhafizah menjelaskan bahwa Minimum Viable Product (MVP) bukanlah produk asal jadi atau versi murahan. MVP adalah versi paling sederhana dari produk yang sudah bisa digunakan, dites, dan memberikan nilai nyata kepada pengguna. Intinya adalah: buat yang paling penting terlebih dahulu, lalu kembangkan secara bertahap berdasarkan feedback pengguna.

Pembahasan ini membuka wawasan baru bagi saya karena sering kali kita merasa harus menunggu produk sempurna sebelum diluncurkan. Padahal, menunda justru membuat kita kehilangan kesempatan mendapatkan insight langsung dari pengguna.

3. Iterasi dan Validasi adalah Kunci

Setelah MVP diluncurkan, pekerjaan kita tidak berhenti. Inilah fase paling krusial: menerima feedback, melakukan perbaikan, dan mengulang proses pengembangannya. Dr. Nurhafizah menegaskan bahwa kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan pasar dan respon pengguna adalah faktor penentu keberlanjutan suatu produk.

Saya merasa poin ini sangat relevan terutama untuk dunia startup, di mana perubahan bisa sangat cepat terjadi.


Pengalaman Pribadi Selama Sesi

Sesi Sharing Santai ini terasa sangat menyenangkan karena suasananya santai, interaktif, dan membuka ruang diskusi. Saya juga mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dengan peserta lain yang bergelut di bidang inovasi digital. Networking ini menambah nilai tambah tersendiri karena saya bisa bertukar ide dan melihat bagaimana orang lain memandang proses pengembangan produk.

Penjelasan Dr. Nurhafizah juga sangat mudah dipahami, meskipun membahas topik teknis. Cara beliau menyampaikan materi terasa seperti bimbingan langsung—hangat, jelas, dan inspiratif.


Kesimpulan Pribadi

Acara Sharing Santai #214 memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana sebuah produk dikembangkan secara efektif. Saya belajar bahwa:

  • Produk dimulai dari masalah, bukan dari fitur.

  • MVP adalah langkah awal yang strategis, bukan produk setengah jadi.

  • Feedback pengguna adalah “kompas” bagi perjalanan produk.

  • Iterasi adalah bagian yang tidak bisa dilewatkan.

Saya merasa sesi ini sangat bermanfaat dan membuka cara pandang baru dalam memahami product development. Ini menjadi bekal yang sangat penting bagi saya, terutama jika ke depannya ingin membangun produk digital sendiri.

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

Leave a comment