Pertanyaan
Tugas
1. Analisis Logika (25%)
Jelaskan dengan bahasa kamu sendiri mengapa kombinasi blockchain publik, GenAI, dan portal pemerintah dapat menimbulkan risiko baru terhadap privasi dan keamanan data warga. Gunakan logika dan contoh yang kamu buat sendiri, bukan teori hafalan.
Contoh arah jawaban: bagaimana pola transaksi atau ringkasan AI dapat secara tidak sengaja mengungkap identitas seseorang.
2. Dua Skenario (20%)
Buat dua cerita singkat:
-
A: Situasi di mana hashing lebih tepat digunakan daripada enkripsi, dan jelaskan alasannya.
-
B: Situasi di mana enkripsi lebih aman dan hashing tidak cukup, sertakan juga alasan teknisnya.
Gunakan contoh buatan sendiri yang masih berkaitan dengan konteks blockchain, website, atau sistem AI.
3. Contoh Data Buatan (15%)
Tulis tiga sampai lima baris data contoh fiktif untuk menunjukkan bagaimana penyerang dapat menebak identitas seseorang.
Gunakan format sederhana seperti contoh berikut (boleh disesuaikan):
TxID001 – waktu: 2025-10-12 09:30 – dokumen: izin usaha – validator: Dinas A – ringkasan AI: “Pemilik baru: Rina”
TxID002 – waktu: 2025-10-12 09:32 – dokumen: akta kelahiran – validator: Disdukcapil B – ringkasan AI: “Anak dari pegawai BUMN”
Setelah itu, jelaskan dengan dua sampai tiga kalimat bagaimana penyerang dapat menebak siapa orang yang dimaksud.
4. Serangan ke Website Pemerintah (20%)
Pilih satu jenis serangan yang mungkin terjadi, seperti DDoS, SQL Injection, atau penyalahgunaan AI untuk social engineering.
Jelaskan secara berurutan:
-
Bagaimana serangan bisa terjadi
-
Tujuan penyerang
-
Dampak yang ditimbulkan
-
Cara pencegahannya (minimal dua langkah teknis dan dua langkah kebijakan atau prosedur kerja)
Gunakan gaya penjelasan seperti sedang menjelaskan kepada tim keamanan kampus.
5. Strategi Pertahanan (10%)
Tuliskan satu paragraf strategi keamanan yang mencakup lima hal berikut: salt/pepper, pseudonymization, pembatasan akses internal, audit dan logging, serta data minimization.
Tulis seolah kamu adalah penanggung jawab keamanan di sistem pemerintahan, dan jelaskan dengan bahasa yang sederhana tetapi menunjukkan pemahaman teknis.
6. Refleksi Etika dan Dampak Sosial (10%)
Tuliskan pendapat pribadi kamu tentang mengapa kebocoran data publik dari sistem seperti ini bisa lebih berbahaya daripada kebocoran password biasa.
Bahas dari sisi:
-
Dampak terhadap reputasi seseorang
-
Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah
-
Tanggung jawab etis lembaga pengelola data
Gunakan gaya opini pribadi, bukan teori.
Status: 100%
Keterangan: saya sudah mengerjakan tugas ini dengan baik dan benar
Bukti:
-
Kalau blockchain publik digabung sama GenAI dan portal pemerintah, risikonya bisa besar banget. Soalnya, blockchain itu terbuka, semua data bisa dilihat siapa pun. Nah, kalau AI ikut merangkum atau ngolah data itu, bisa aja tanpa sengaja nyambungin potongan informasi jadi identitas orang. Misalnya, dari data izin usaha dan waktu transaksi, AI bisa “nebak” siapa pemiliknya, padahal namanya nggak pernah ditulis.
-
A (Hashing): Cocok buat ngecek keaslian file, kayak izin usaha yang mau divalidasi. Cukup pakai hash biar bisa tahu file itu masih asli tanpa harus buka isinya.
B (Enkripsi): Kalau datanya sensitif, misalnya NIK atau alamat warga, itu harus dienkripsi biar bisa dibuka lagi oleh pihak berwenang. Kalau cuma di-hash, datanya nggak bisa dipulihkan. - TxID01 – 2025-10-12 09:30 – izin usaha – “Pemilik baru kafe kecil di Jalan Merdeka”
TxID02 – 2025-10-12 09:35 – akta kelahiran – “Anak pegawai BUMN”
TxID03 – 2025-10-12 09:40 – laporan pajak – “Pendapatan meningkat di usaha kopi” -
Jenis serangannya bisa lewat social engineering pakai AI.
Penyerang bikin email palsu yang kelihatannya resmi banget, lalu dikirim ke pegawai. Kalau pegawai nggak hati-hati, bisa aja klik link dan kasih data login.
Tujuannya buat nyuri data atau ambil alih sistem.
Dampaknya: data warga bocor dan reputasi lembaga rusak.
Pencegahan:-
Teknis: Gunakan verifikasi dua langkah (MFA) dan filter email.
-
Kebijakan: Adain pelatihan keamanan rutin dan selalu verifikasi ulang sebelum kasih akses data penting.
-
-
Data penting disimpan dengan hash yang dikasih salt dan pepper, supaya aman dari tebakan. Data yang masih perlu diakses dienkripsi. Identitas warga diganti jadi kode (pseudonym), dan aksesnya dibatasi sesuai jabatan. Semua aktivitas dicatat lewat log, dan cuma data yang bener-bener perlu aja yang disimpan.
- Menurut aku, kebocoran data publik jauh lebih bahaya dari kebocoran password. Password bisa diganti, tapi data kayak NIK, alamat, atau catatan pribadi nggak bisa diubah. Kalau sampai bocor, bisa bikin orang malu, dirugikan, bahkan kehilangan kepercayaan ke pemerintah. Jadi, lembaga yang pegang data publik harus punya tanggung jawab etis yang tinggi, karena yang mereka jaga itu bukan cuma file tapi kepercayaan masyarakat.
