Assigment Week 2 – BD302 – Hilma Aulia Daffa – 2581494366

NAMA : Hilma Aulia Daffa
NIM : 2581494366

Tugas Pertemuan ke 2 : Cek DNA

Berdasarkan hasil kuesioner interaktif :

1. Motivasi Dominan
Berdasarkan hasil tes, motivasi utama saya adalah Need for Achievement (n. ACH). Artinya saya merasa sangat puas ketika berhasil menyelesaikan tantangan yang sulit. Saya lebih menghargai pencapaian pribadi dan kualitas hasil kerja daripada sekadar kekuasaan atau pengakuan sosial. Hal ini sangat penting bagi seorang pengusaha karena bisnis penuh dengan tantangan yang membutuhkan kegigihan tinggi.

2. Karakter DNA Pengusaha
Hasil tes menunjukkan bahwa saya memiliki DNA Pengusaha yang Kuat, ditandai dengan :

  • Internal Locus of Control: Saya percaya bahwa kegagalan atau keberhasilan projek ada di tangan saya sendiri (bukan faktor keberuntungan semata). Saya cenderung mencari cara untuk memperbaiki diri daripada menyalahkan keadaan.
  • Opportunistic Mindset: Saya mampu melihat masalah (seperti toko yang pelayanannya lambat) bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai peluang bisnis untuk memberikan pelayanan yang lebih baik.

3. Kesiapan Terhadap Risiko
Saya memiliki tingkat kesiapan risiko yang Moderat Tinggi. Meskipun ada rasa khawatir terhadap ketidakpastian pendapatan, saya merasa tantangan tersebut sepadan dengan kontrol penuh yang saya miliki atas masa depan saya. Saya menyadari bahwa risiko finansial adalah bagian dari “investasi” untuk mencapai potensi penuh.

     Setelah melihat hasil tes potensi diri saya, kalau ditanya, “Apa sih yang sebenernya bikin saya pengen masuk ke dunia ini?” Berdasarkan hasil tes, motivasi saya paling kuat ada di Need for Achievement (n.ACH). Saya tipe orang yang tidak betah kalau hanya cuma jalan di tempat atau sekadar di zona aman. Tapi ada rasa puas yang susah dijelasin, misal contoh kalau saya berhasil ngeberesin tantangan yang mungkin buat orang lain itu ribet, susah atau bikin pusing, tapi buat saya itu adalah bentuk pembuktian diri saya. Oiya pas kuliah tadi dibahas kalau pengusaha itu harus berani beda dan punya prinsip, jadi saya berfikir tidak mau cuma sekedar jadi pencipta ide-ide keren, karena jujur aja semua orang bisa punya ide. Namun tantangan sebenernya adalah gimana nih ngubah ide itu jadi opportunity yang beneran. Dari situ ada rasa saya mulai belajar ngebedain mana yang cuma sekadar ide keren di otak, dan mana yang emang attractive, timely, durable, dan yang paling penting punya value buat oranglain. Jujur sebenernya kalau mikirin resiko jadi pengusaha itu emang sering bikin overthink. Siapa sih yang ngga ngeri kehilangan modal atau harus kerja dua kali lebih keras? Balik lagi ke hasil tes potensi saya, di situ kelihatan kalau kegigihan saya lumayan tinggi. Kayanya saya lebih milih pusing karena nanggung tanggung jawab besar di tangan sendiri, daripada pusing karena ngerasa potensi saya cuma dipake buat menuhin ambisi orang lain tanpa ada kebebasan buat bikin perubahan. Hal simple kadang kalau ke tempat makan, pas lagi ngeliat masalah sepele, suka kaya mikir, “kok ngga ada ya layanan yang simpel kayak gini?” atau “Kenapa ya masalah sepele ini ngga dibikinin solusinya aja?” Ternyata keresahan-keresahan atau kepekaan kecil inilah yang sebenernya cikal bakal peluang bisnis kalau kita emang pake kacamata wirausaha. Intinya perjalanan kewirausahaan buat saya itu lebih ke proses gimana saya ngasah DNA saya, ngelawan rasa takut sama risiko, tetap peka sama masalah di sekitar dan insting buat nemuin celah di tengah kondisi sesulit apa pun.

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

Leave a comment