Assignment 2 BD309 Vinkan Likita

Pertanyaan:

Kasus 3 – Bertaruh pada Mobilitas: Apakah Pemulihan Soekarno–Hatta Cukup Kuat untuk Rute Baru?

Pada tahun 2024–2025, para pengusaha transportasi di Kota Tangerang menimbang sebuah ide berani: layanan shuttle bandara premium yang menghubungkan Soekarno–Hatta (CGK) dengan kawasan hunian yang berkembang pesat dan klaster hotel di Tangerang dan Serpong. Para pemberi pinjaman menyukai konsep tersebut, namun menginginkan cerita kuantitatif yang lebih jelas: apakah arus penumpang akan tetap stabil untuk menopang frekuensi tinggi dan harga premium setelah rasa penasaran awal mereda?

Tim proyek mengumpulkan jumlah penumpang bulanan (domestik dan internasional) dari sumber publik untuk periode 2020–2025. Visualisasi tren menunjukkan cerita jelas tentang penurunan, pembukaan kembali, dan pemulihan. Namun pemberi pinjaman alergi terhadap perkiraan yang rumit. Mereka menginginkan satu garis sederhana yang komprehensif untuk dua tahun ke depan berdasarkan asumsi logis: jika laju pemulihan keseluruhan bertahan, kapan volume bulanan akan menyamai atau melebihi rata-rata 2019; dan jika pemulihan terhenti, seberapa jauh rencana bisa bertahan tanpa runtuh?

Tim mengeksplorasi dua tuas praktis. Pertama, proyeksi berbasis tren untuk menetapkan kasus sentral volume—angka yang akan menjadi dasar sewa kendaraan, jadwal kru, dan jeda minimum. Kedua, overlay musiman dan liburan sehingga operasional dapat menyiapkan pasokan di sekitar liburan sekolah, Ramadan, dan perjalanan akhir tahun. Mereka juga membuat kebijakan sederhana untuk peluncuran: luncurkan Rute A setelah rata-rata tiga bulan melewati ambang batas; luncurkan Rute B setelah garis tren menyamai rata-rata 2019 selama dua bulan berturut-turut.

Investor menerima rencana tersebut dengan syarat: uji tarif akan dilakukan, frekuensi akan ditingkatkan seiring ambang batas tercapai, dan pengeluaran pemasaran akan diarahkan di sekitar momen liburan. Cerita ini berhasil karena sederhana. Alih-alih menjanjikan presisi, tim menunjukkan bagaimana sebuah garis sederhana, diperbarui bulanan dengan data resmi, dapat mendorong keputusan disiplin tentang kapan menambah bus, kapan menahan, dan kapan beralih arah.

Pertanyaan Diskusi

  1. Buatlah sebuah rumus linear sederhana untuk memproyeksikan jumlah penumpang bulanan selama 24 bulan ke depan, dan tandai bulan yang Anda perkirakan akan mencapai atau melebihi rata-rata 2019.
  2. Sebutkan pertimbangan operasional Anda untuk meluncurkan Rute A sekarang dibandingkan menundanya (sewa kendaraan, shift kru, musiman, lonjakan liburan, risiko kebijakan).
  3. Jika lalu lintas internasional tertinggal lebih lama dari domestik, bagaimana Anda akan menyesuaikan frekuensi dan harga tanpa menulis ulang keseluruhan rencana Anda?

Status:

100% sudah tercapai

Keterangan:

Saya sudah mengerjakan assignment 2 dengan baik dan benar

Bukti:

1) Rumus linear & proyeksi penumpang

Untuk menghitung jumlah penumpang tiap bulan dengan rumus sederhana:

P(x) = P0 + r . x

Keterangan:

  • P(x) = jumlah penumpang di bulan ke-x
  • P0 = jumlah penumpang awal (misalnya 70.000)
  • r = kenaikan penumpang rata-rata per bulan (misalnya 1.500)
  • x = bulan ke berapa (1–24 bulan)

Contoh:

P(x) = 70.000 + 1.500x

Rata-rata 2019 = 100.000 penumpang.

Maka:

100.000 = 70.000 + 1.500x => x = 20

Jadi penumpang baru sama dengan atau lebih dari rata-rata 2019 di bulan ke-20 (sekitar Agustus 2025).

2) Pertimbangan operasional untuk Rute A

Hal-hal yang harus dipikirkan sebelum meluncurkan Rute A:

  • Sewa bus: kalau mulai terlalu cepat, bus bisa kosong → rugi.
  • Kru/driver: atur jadwal kerja supaya tidak boros.
  • Musim liburan: mulai di saat ramai (Ramadan, akhir tahun) lebih aman.
  • Risiko aturan/biaya: kalau ada aturan baru atau harga BBM naik, harus siap.

3) Jika penumpang internasional lebih lambat pulih

Kalau penumpang luar negeri belum banyak:

  • Fokus dulu ke penumpang domestik (rute lokal, hotel, Serpong–Tangerang).
  • Kurangi frekuensi bus untuk penumpang internasional.
  • Kasih promo harga biar kursi tidak kosong.
  • Tambah frekuensi internasional hanya kalau ada event besar (pameran, turis).
Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

Leave a comment