Petualangan dimulai

Perjalanan kami ke Kuala Lumpur dimulai dengan kumpul di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada pukul 8 pagi. suasana di titik kumpul sudah begitu ramai. Para mahasiswa dan dosen tampak bersemangat, sebagian sibuk menyeret koper, sebagian lagi bercanda untuk mencairkan suasana. Rasanya seperti awal dari sebuah petualangan panjang yang sudah lama kami tunggu.
Setelah memastikan semua lengkap, kami langsung bergerak menuju konter check-in. Suasana antrian penuh dengan cerita kecil: ada yang panik karena koper tidak bisa di kunci, ada pula yang sibuk memastikan paspor tak tertinggal. Untungnya, semua berjalan lancar. Boarding pass sudah di tangan, bagasi sudah beres, dan kami pun melangkah ke area imigrasi dengan rasa lega.
Namun, perjalanan tak selalu mulus. Pengumuman dari Email maskapai membuat kami terdiam sejenak pesawat kami menuju Kuala Lumpur mengalami penundaan. Rasa kecewa sempat muncul, tapi hanya sebentar. Kami sepakat menjadikan momen itu sebagai kesempatan beristirahat. Ada yang mencari tempat duduk nyaman untuk membaca, ada yang sibuk memotret suasana bandara, dan tak ketinggalan camilan gratis dari maskapai jadi penyelamat perut yang mulai lapar. Dalam penantian itu, justru tawa dan obrolan ringan semakin mendekatkan kami satu sama lain.
Beberapa jam kemudian, penantian terbayar. Saat nama penerbangan kami dipanggil, semangat kembali membuncah. Perjalanan dari Jakarta ke Kuala Lumpur hanya sekitar dua jam, tapi terasa begitu singkat. Di atas pesawat, ada yang sibuk menatap awan bergumpal dari jendela, ada yang ngemil, dan tak sedikit yang memilih tidur untuk menyimpan energi. Tanpa terasa, pesawat sudah menurunkan ketinggiannya, menandakan kami siap menapakkan kaki di negeri jiran.
Begitu keluar dari Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA 1), udara Malaysia menyambut kami dengan hangat. Setelah melewati imigrasi dan mengambil bagasi, wajah-wajah ramah sudah menanti. Para mahasiswa dari International Islamic University Malaysia (IIUM) dan Dr. Azura menyambut kami dengan senyum hangat dan ucapan selamat datang. Rasanya seperti bertemu keluarga lama di negeri asing.
Beberapa mobil sudah disiapkan untuk membawa kami ke kampus IIUM. Perjalanan darat sekitar satu setengah jam itu menjadi kesempatan kami mengamati kota Kuala Lumpur. Gedung-gedung tinggi, jalanan yang rapi, dan papan nama berbahasa Melayu membuat kami terkesan. Obrolan di dalam mobil pun ramai—mulai dari kesan pertama melihat kota ini hingga harapan-harapan kecil selama kami tinggal di Malaysia.
Akhirnya, setelah perjalanan panjang, kami tiba di kampus IIUM. Megah, luas, dan penuh nuansa islami kesan pertama itu langsung tertanam di benak kami. Kami diarahkan menuju asrama, yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Begitu masuk kamar masing-masing, koper langsung ditaruh, badan direbahkan sebentar, dan napas lega terhembus.
Malam harinya, kami berkumpul kembali untuk makan malam di kantin asrama perempuan. Menu khas lokal tersaji di meja ada nasi, daging rica-rica berempah, sayur dan teh tarik dingin yang harum. Rasanya luar biasa, bukan hanya karena makanannya, tetapi juga karena kami menikmatinya bersama-sama. Obrolan tentang perjalanan tadi mengalir hingga larut.
Setelah perut kenyang, kami kembali ke kamar masing-masing. Malam itu, di balik rasa lelah yang menumpuk, tersimpan pula rasa antusias yang besar. Esok hari, petualangan baru di Malaysia menanti, dan kami siap menyambutnya dengan semangat penuh.
