Haloo semuanyaa, aku mau cerita pengalaman pertama aku mengikuti seminar internasional, baca sampai selesai yaaa….Pada hari Jumat, 24 September 2026, aku dan teman-teman menghadiri seminar internasional. Sebagai seseorang yang sehari-hari akrab dengan perangkat digital dan teknologi, tema kecerdasan buatan (AI) yang diusung pada acara ini sangat menarik perhatianku.
acara ini adalah konferensi IICRO 2026 yang mengusung tema “Advancing Artificial Informatics Through Engineering, Psychology, and Ethics for Human-Centered Well-Being”. Acara ini diselenggarakan di Aula Universitas Raharja dan menghadirkan Welcome Speech dari Rektor Universitas Raharja, Prof. Dr. Po Abas Sunarya, M.Si, serta pemaparan dari Keynote Speakers seperti Prof. Dr. Akram M Zeki, Prof. Dr. Abdul Wahab Abdul Rahman, dan Prof. Dr. Ankur Singh Bist.
Berikut materi yang dijelaskan saat seminar berlangsung:
AI Harus Adil (Inclusive AI): AI itu wajib dirancang buat semua kalangan, gak peduli beda bahasa, budaya, status ekonomi, atau kemampuan fisiknya. Teknologi ini gak boleh cuma memihak ke satu kelompok. Misalnya, voice assistant di HP mestinya bisa paham berbagai macam logat orang, bukan cuma logat standar aja.
Tren AI di Sekolah (Data 2026): Sekitar 88% guru dan 82% murid sepakat kalau ngerti AI itu penting banget buat karier ke depan. Asiknya, guru yang biasa pakai AI ternyata bisa hemat waktu kerja sampai 6 minggu dalam setahun! Sayangnya, 75% guru ngerasa belum punya ilmunya buat ngajarin ini, dan saat ini baru 7% sekolah di dunia yang punya panduan pemakaian AI.
AI untuk Pantau Kesehatan Mental: Selama ini, ngecek kesehatan mental pakai kuesioner sering meleset karena orang bisa bohong, bias, atau nutup-nutupin kondisinya. Inovasi barunya ada AI bernama “NeuroCoach” yang dipasangkan sama alat portabel buat mantau kondisi otak dari rumah secara rutin. Bibit stres, kelelahan kognitif, atau masalah mental bisa ketahuan lebih awal sebelum jadi krisis, terus langsung dikasih terapi yang pas.
AI Bantu Diagnosis Medis:Di dunia medis, dikenalin juga sistem AI (Semantic Clinical Diagnostics Flow) yang kerjanya bagi-bagi tugas layaknya tim ahli. Beberapa agen AI saling kerja sama nganalisis data klinis pasien supaya hasil diagnosis dokter nantinya jadi jauh lebih presisi dan akurat.
