
Pada suatu pagi yang tenang, saya mengikuti kelas mata kuliah saya yang bertema “How Kindergarten Shapes Work and Family Roles” melalui Zoom meeting. Meskipun dilakukan secara daring, suasana kelas terasa hidup dan penuh diskusi kritis. Dosen membuka pertemuan dengan membahas bagaimana pendidikan usia dini tidak hanya membentuk kebiasaan belajar anak, tetapi juga memiliki dampak jangka panjang terhadap pembagian peran dalam keluarga dan dunia kerja.

Saya merasa sangat tertarik ketika topik mulai menyentuh bagaimana kebijakan pendidikan taman kanak-kanak di berbagai negara mencerminkan nilai-nilai budaya mengenai peran gender, kerja, dan tanggung jawab pengasuhan. Melalui layar, saya menyimak dengan saksama, berdiskusi dengan teman-teman, dan menyadari bahwa masa kanak-kanak ternyata memiliki peran strategis dalam membentuk struktur sosial masyarakat secara keseluruhan. Meskipun kami terpisah oleh jarak, pengalaman belajar secara daring ini tetap membuka wawasan saya tentang hubungan antara pendidikan anak usia dini dan dinamika peran dalam kehidupan dewasa.
