Hii gusyy cermi bina disini!
Kali ini Bina mau cerita pengalaman ikut acara Teach Talk Session ke-50 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dosen Indonesia (ADI). Di sesi ini, pembicara utamanya adalah Muhammad Naufal Nafian, mahasiswa pascasarjana di Carnegie Mellon University (CMU) yang saat ini juga sedang menjalani magang sebagai Product Manager di JP Morgan Chase, Ohio, Amerika Serikat.
Naufal membagikan kisah inspiratifnya tentang perjalanan dari dunia teknik fisika di ITB, lalu beralih ke teknologi dan manajemen produk berbasis kecerdasan buatan (AI). Yang menarik, ia menekankan pentingnya punya kemampuan lintas bidang—karena dunia teknologi saat ini menuntut lebih dari sekadar keahlian teknis.
Salah satu proyek menarik yang dipresentasikan Naufal adalah sebuah asisten akademik digital berbasis AI. Sistem ini membantu mahasiswa memilih mata kuliah berdasarkan data seperti deskripsi mata kuliah, rekam jejak pengajaran dosen, serta tingkat kesibukan di jadwal kuliah. Bina jadi kepikiran, ini solusi keren buat mahasiswa yang sering bingung atur rencana studi!
Yang bikin Bina makin tertarik adalah penjelasan Naufal soal pentingnya memahami dasar kerja AI, bukan cuma tahu cara pakainya. Menurutnya, banyak orang saat ini pakai tools kayak ChatGPT hanya sebagai alat bantu, tapi tidak memahami logika dan batasannya. Padahal, pemahaman mendasar itu penting supaya kita bisa pakai teknologi dengan lebih bijak dan kritis.
Untuk mempermudah belajar AI, Naufal menawarkan pendekatan tiga tahap:
Non-teknis – cocok buat pemula yang ingin mengenal konsep dasar.
Low-code – pakai tools sederhana yang tidak perlu coding berat.
Teknis penuh – untuk yang ingin mendalami dan membangun sistem AI dari nol.
Dengan pendekatan ini, siapa pun dari latar belakang apa pun bisa mulai belajar AI sesuai levelnya masing-masing.
Di sesi diskusi, topik etika dalam teknologi juga jadi sorotan. Naufal memberikan contoh tentang bias dalam algoritma AI, misalnya pada sistem pengenalan wajah yang bisa diskriminatif terhadap kelompok tertentu. Ia mengingatkan bahwa AI hanya secerdas data yang kita berikan. Kalau datanya keliru atau tidak seimbang, sistemnya bisa berbahaya dan tidak adil.
Selain itu, tantangan implementasi AI di Indonesia juga ikut dibahas. Mulai dari kurangnya literasi digital, belum jelasnya regulasi, hingga kecenderungan menggunakan AI sebagai shortcut tanpa memahami dampaknya. Naufal menekankan, AI harus digunakan untuk mendukung proses berpikir manusia, bukan menggantikannya.
Intinya, sesi ini membuka wawasan bahwa AI bukan cuma urusan teknisi atau programmer. Kalau dimanfaatkan dengan benar, AI bisa jadi alat bantu luar biasa di bidang pendidikan, bisnis, bahkan layanan publik.
Sekian dulu ya guys cermi dari Bina untuk Teach Talk Session ke-50!
Sampai ketemu lagi di cermi berikutnya~ makasih udah baca! 🌟💻

