Hashing saja tidak cukup untuk melindungi data identitas pasien karena dapat rentan terhadap serangan re-identifikasi. Mari kita lihat contoh sederhana:
Misalkan kita memiliki data pasien dengan format: `nomor identitas` → `hash(nomor identitas)`. Seorang penyerang dapat menggunakan informasi publik seperti tanggal lahir atau kode pos untuk mencocokkan hash dengan identitas pasien. Jika penyerang mengetahui bahwa seorang pasien tertentu memiliki tanggal lahir yang unik, mereka dapat menggunakan informasi tersebut untuk mencocokkan hash dengan identitas pasien.
*Skenario A: Hash lebih tepat digunakan daripada enkripsi*
Hash lebih tepat digunakan dalam situasi di mana kita ingin memverifikasi integritas data tanpa perlu mengetahui isi sebenarnya. Contohnya, dalam sistem pemantauan kesehatan masyarakat, kita ingin memantau pola penyakit tanpa mengetahui identitas pasien. Dengan menggunakan hash, kita dapat memantau pola tanpa mengakses data sensitif.
*Skenario B: Enkripsi lebih tepat digunakan daripada hash*
Enkripsi lebih tepat digunakan dalam situasi di mana kita ingin melindungi data sensitif dari akses tidak sah. Contohnya, dalam sistem rekam medis elektronik, kita ingin melindungi data medis pasien dari akses tidak sah. Dengan menggunakan enkripsi, kita dapat memastikan bahwa hanya pihak yang berwenang yang dapat mengakses data.
*Contoh data buatan*
| Nama | Tanggal Lahir | Jenis Pemeriksaan | Hash |
| Andi | 1990-02-12 | Pemeriksaan darah | 23456 |
| Budi | 1992-05-25 | Pemeriksaan tensi | 34567 |
| Cici | 1990-02-12 | Pemeriksaan darah | 23456 |
Dalam contoh di atas, penyerang dapat menebak bahwa pasien dengan hash `23456` adalah Andi atau Cici karena mereka memiliki tanggal lahir yang sama dan jenis pemeriksaan yang sama.
*Pendekatan defense-in-depth*
Untuk melindungi data identitas pasien, kita dapat menggunakan pendekatan defense-in-depth yang mencakup beberapa lapisan keamanan. Pertama, kita dapat menggunakan salt dan pepper untuk membuat hash lebih sulit ditebak. Kedua, kita dapat menggunakan pseudonymization untuk menggantikan identitas pasien dengan kode unik. Ketiga, kita dapat membatasi akses internal hanya untuk pihak yang berwenang. Keempat, kita dapat melakukan audit dan logging untuk memantau akses data. Terakhir, kita dapat menerapkan prinsip data minimization untuk membatasi pengumpulan data hanya pada informasi yang diperlukan.
*Kebocoran hash data kesehatan*
Kebocoran hash data kesehatan lebih berbahaya daripada kebocoran hash password biasa karena data kesehatan sangat sensitif dan dapat digunakan untuk membahayakan pasien. Selain itu, data kesehatan juga dapat digunakan untuk melakukan penipuan asuransi atau penargetan iklan yang tidak diinginkan. Dari sudut pandang etika, kebocoran data kesehatan dapat merusak kepercayaan pasien terhadap sistem kesehatan dan dapat memiliki dampak sosial yang signifikan. Oleh karena itu, kita harus sangat berhati-hati dalam melindungi data kesehatan pasien.
