Essay HASH – Farrelian Ivander G – 2581485497

SOAL UTS – Hash, Privasi Data Medis, dan Keamanan Informasi

Sebuah platform kesehatan digital menyimpan data pasien dengan metode sebagai berikut:

  • Nomor identitas → hash

  • Email → hash

  • Data medis → enkripsi

Terjadi insiden keamanan di mana pihak luar dapat melakukan re-identification attack dengan mencocokkan hash, pola data kunjungan, dan informasi publik.

Tugas kamu adalah menjawab pertanyaan berikut dengan bahasa kamu sendiri, bukan definisi textbook atau salinan teori umum. Gunakan pemikiran pribadi, contoh buatan sendiri, dan logika kamu. Jawaban generik atau terindikasi bantuan otomatis tidak akan dinilai.


  1. Jelaskan mengapa hashing saja tidak cukup untuk melindungi data identitas pasien, terutama jika data tersebut dapat dicocokkan dengan sumber eksternal. Gunakan contoh logika sederhana yang kamu buat sendiri untuk menjelaskan.

  2. Berikan dua skenario nyata (boleh fiktif namun masuk akal):

    • A: Situasi di mana hash lebih tepat digunakan daripada enkripsi

    • B: Situasi di mana enkripsi lebih tepat digunakan daripada hash
      Sertakan alasan teknis singkat yang kamu pahami sendiri, bukan sekadar teori.

  3. Buat contoh data buatan kamu (3 sampai 5 baris teks saja, tidak perlu menghitung hash asli) untuk menunjukkan bagaimana penyerang dapat menebak identitas pasien melalui pola atau kesesuaian informasi, misalnya dari usia, tanggal kunjungan, atau jenis pemeriksaan.

  4. Usulkan pendekatan defense-in-depth untuk sistem tersebut dalam bentuk paragraf, tidak bullet point. Bahasan kamu harus mencakup minimal empat elemen berikut: penggunaan salt/pepper, pseudonymization, pembatasan akses internal, audit dan logging, dan prinsip data minimization. Jelaskan sebagai strategi yang kamu rancang sendiri.

  5. Jelaskan dengan opini pribadi kamu mengapa kebocoran hash data kesehatan lebih berbahaya dibanding kebocoran hash password biasa. Sertakan sudut pandang etika, dampak sosial, dan reputasi pasien. Gunakan argumen kamu sendiri.

 

Bukti :

1. Hash tidak cukup aman karena jika orang memiliki daftar hash dan data publik seperti nomor identitas dan email, orang tersebut bisa mencocokan hash dengan data yang sebenarnya. Contoh jika hash dari email seseorang adalah 2738a9, pelaku akan tetap bisa menebak dengan cara mencoba semua email yang sudah ada sampai menemukan kecocokan email tersebut dengan hash yang ada. Maka hash jika disimpan identitas seorang pasien akan tetap bisa ditebak.

2. A. Hash lebih tepat digunakan daripada enkripsi karena hanya perlu meggunakan kesamaan bukan membaca dari password yang sudah ada, sehingga memiliki sifat satu arah.

B. Enkripsi lebih tepat digunakan daripada hash karena data dari enkripsi tersebut bisa dibaca kembali oleh dokter yang berbeda, jadi memiliki sifat dua arah .

3. Ada seorang pelaku penyerangan berhasil mendapatkan hash dari email seorang pasien serta memiliki data kunjungan pasien tersebut ke rumah sakit. Pelaku tersebut ternyata juga memiliki data publik dan data kesehatan yang berisi email dan data kunjungan pasien. Dari mencocokan data email dan data kunjungan dari pasien, pelaku tersebut berhasil menebak identitas dari pasien tersebut, bahkan sampai mengetahui riwayat penyakit pasien.

4. A. Salt/pepper hasing : bisa menambahkan pengacakan agar hasil dari hash berbeda walaupun inputnya sama.

B. Pseudonymization : Menggunakan ID secara mengacak untuk mengganti identitas asli dari pasien.

C. Pembatasan akses internal : Jadi hanya dokter yang menangani pasien saja yang bisa mengakses data pasien tersebut.

D. Audit dan logging : Segala aktifitas yang mencurigakan mengenai akses dari data pasien dapat tercatat dan terpantau agak bisa terlacak.

5. A. Aspek etika : penyakit, mental, dan hasil dari riwayat pasien itu adalah informasi yang sangat personal untuk pasien. Karena tidak semua orang mau kalau orang lain sampai tau bahwa ada penyakit, bahkan beberapa orang menganggap bahwa penyakit adalah aib bagi mereka.

B. Aspek sosial : jika pasien ada kebocoran data soal penyakitnya bisa saja membuat pasien tersebut jadi sulit untuk mendapat pekerjaan, bahkan sampai bisa menimbulkan diskriminasi.

C. Aspek reputasi : jika data pasien memiliki kebocoran itu bersifat permanent karena rumah sakit akan kehilangan kepercayaan publik yang sudah rumah sakit buat.

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

Leave a comment