SOAL UTS – Hash, Privasi Data Medis, dan Keamanan Informasi
- Sebuah platform kesehatan digital menyimpan data pasien dengan metode sebagai berikut:
-
Nomor identitas → hash
-
Email → hash
-
Data medis → enkripsi
- Terjadi insiden keamanan di mana pihak luar dapat melakukan re-identification attack dengan mencocokkan hash, pola data kunjungan, dan informasi publik.
- Tugas kamu adalah menjawab pertanyaan berikut dengan bahasa kamu sendiri, bukan definisi textbook atau salinan teori umum. Gunakan pemikiran pribadi, contoh buatan sendiri, dan logika kamu. Jawaban generik atau terindikasi bantuan otomatis tidak akan dinilai.
- Jelaskan mengapa hashing saja tidak cukup untuk melindungi data identitas pasien, terutama jika data tersebut dapat dicocokkan dengan sumber eksternal. Gunakan contoh logika sederhana yang kamu buat sendiri untuk menjelaskan. Jawaban: hash sendiri memiliki sifat satu arah, dan juga input sama selalu menghasilkan output yang sama. Maka dari itu, jika ada pihak yang memiliki daftar NIK atau email dari pengunjung rumah sakit, hotel, ataupun tempat publik lainnya, ia bisa membuat hash dari semua data itu dan akan menghasilkan hash yang sama. Contoh, di sebuah rumah sakit ada artis yang mengalami cidera dan sedang menjalani perawatan, ada seorang SASAENG (atau bisa disebut penggemar gila, yang selalu menguntit idolanya) yang bekerja sama dengan salah satu karyawan rumah sakitnya untuk mendapatkan data pribadinya. Rumah sakit menyimpan nama dan email sebagai hash, kemudian karyawan tersebut mencocokan dengan data yang didapatkan oleh SASAENG dari pihak lainnya. Dengan mudah, hash tersebut menghasilkan output yang sama. Kemudian, dari data yang didapatkan tersebut, bisa dicari di mana kamar artis tersebut dirawat, kapan jadwal operasi dilakukan.
-
Berikan dua skenario nyata (boleh fiktif namun masuk akal):
-
A: Menyimpan kode OTP sekali pakai untuk akses lift ke ruang pemeriksaan/operasi, atau kamar. Dari hash, itu adalah pilihan yang tepat karena hanya perlu diverifikasi tidak perlu ke bentuk data aslinya. Sistem OTP hanya berlaku satu kali, jika ada penyerang atau hacker yang berusaha meretas, maka ia tidak mendapatkan kode aslinya. Alasannya, hash ini mempersempit akses untuk hacker meretas data, juga mengurangi resiko penyalahgunaan karena jika tetap dapat hasil hash, hacker tetap tidak dapat OTP aslinya.
-
B: Data seperti foto identitas, hasil rontgen, atau data paspor pasien asing yang dibutuhkan untuk verifikasi identitas atau audit hukum dapat disimpan dengan lebih baik dengan enkripsi. Alasannya, karena pihak rumah sakit membutuhkan data tersebut untuk audit, maka enkripsi dua-arah tetap lebih aman, tetap dapat dibuka dengan manajemen kunci, karena dapat mengkases dalam bentuk aslinya.
-
-
Buat contoh data buatan kamu (3 sampai 5 baris teks saja, tidak perlu menghitung hash asli) untuk menunjukkan bagaimana penyerang dapat menebak identitas pasien melalui pola atau kesesuaian informasi, misalnya dari usia, tanggal kunjungan, atau jenis pemeriksaan.
Nama
Email Kamar Tanggal Kunjungan Pemeriksaan Kim Taehyung [email protected] VIP 30 2025-10-01 MRI Kepala
Kim Sera
[email protected] ST 32 2025-10-03 CT Scan jantung Kim Yoona [email protected] ST 35 2025-10-02 CT Scan kaki
Moon Taehyung
[email protected] VIP 39 2025-10-03 CT Scan Lengan Nam Taehyung [email protected] VIP 22 2025-10-01 Endoskopi
Sasaeng dapat menebak daftar nama artis, membuat hash, dan mencocokkannya dengan hash di database rumah sakit jika mereka tahu bahwa artis tersebut melakukan pemeriksaan media sosial pada tanggal yang sama. Meskipun data disimpan dalam bentuk hash, identitas asli dapat terbongkar sebagai hasilnya.
- Opini yang dapat saya sampaikan yaitu, pendekatan defense-in-depth dengan menerapkan beberapa keamanan. Pertama, data lengkap pasien harus diberi Salt untik dan Pepper yang disimpen di server terpisah untuk mengurangi risiko serangan pencocokan massal. Kedua, menggunakan pseudonymization di mana nama asli pasien diganti menggunakan kode acak yang hanya dapat dipetakan oleh sistem, jadi staff biasa tidak dapat melihat identitas asli pasien. Ketiga, menerapkan pembatasan akses internal berbasis role-based access control (RBAC) jadi hanya petugas tertentu yang bisa mengakses data sensitif. Keempat, mengaktifkan audit dan logging otomatis yang memantau setiap akses ke data pasien, akan muncul notifikasi jika ada aktivitas mencurigakan/ilegal. Kelima, menggunakan prinsip data minimization yang hanya menyimpan data penting yang benar-benar diperlukan dan menghapus setelah sudah tidak dibutuhkan.
- Opini saya, kebocoran hash data kesehatan sangat amat berbahaya dibanding kebocoran hash password, karena dampaknya bukan hanya keuangan tetapi juga sosial dan psikologis. Reputasi seseorang bisa rusak jika identitas ataupun riwayat medisnya bocor/tebongkar. Misal, ada pasien yang mengidap penyakit HIV, menurut masyarakat awam, penyakit HIV adalah aib. Banyak pasien pengidap HIV yang dijauhkan, dikucilkan, tidak dianggap, bahkan tidak segan untuk diusir. Data password masih bisa untuk diganti, tapi kebocoran data kesehatan menjadi pukulan berat untuk pasien juga keluarganya yang mengalaminya. Dari sisi etika, kebocoran yang terjadi baik data password ataupun data kesehatan, membuat kepercayaan antara masyarakat, pasien, atapun korban menjadi hilang. Reputasi lembaga juga dapat turun karena kelalaian yang terjadi di dalamnya.
