Tangerang, 2021 — Penelitian Hibah Non Ditlitabmas Supply Chain Blockchain berjudul “Desain dan Metodologi Teknologi Blockchain Untuk Monitoring Manajemen Rantai Pasokan Makanan yang Terdesentralisasi” berhasil diselesaikan oleh tim peneliti Universitas Raharja, yang dipimpin oleh Assoc. Prof. Dr. Ir. Untung Rahardja, M.T.I., MM. Penelitian ini menjadi solusi revolusioner dalam meningkatkan keterlacakan rantai pasokan makanan yang selama ini menjadi masalah utama di tengah pandemi COVID-19. Dimana Biaya Penelitian ini berjumlah Rp. 19.145.000,-.
Pandemi COVID-19 membawa tantangan besar dalam pasokan pangan global. Pembatasan pergerakan dan lockdown di berbagai negara menyebabkan gangguan signifikan dalam rantai pasokan makanan, yang melibatkan banyak pelaku mulai dari petani, pengolah, pengiriman, hingga pengecer. Hal ini menimbulkan risiko kelangkaan pangan dan menurunnya kualitas nutrisi masyarakat terdampak.
Menurut laporan PBB, pandemi ini dapat memicu krisis pangan dunia, sehingga butuh solusi teknologi yang mampu memantau rantai pasokan secara real-time, transparan, dan terdesentralisasi agar distribusi makanan tetap berjalan lancar dan aman.
Teknologi blockchain muncul sebagai jawaban atas masalah keterlacakan dan transparansi dalam rantai pasokan makanan. Blockchain memungkinkan setiap pelaku rantai pasokan untuk berbagi data jaminan kualitas secara aman dan tidak bisa diubah (immutable). Hal ini sangat penting untuk menjaga integritas data dan menghindari penipuan, terutama dalam kondisi krisis seperti pandemi.
Penelitian ini mengidentifikasi bahwa untuk memanfaatkan teknologi blockchain secara efektif, harus ada standarisasi proses, tata kelola data, dan kesepakatan bersama antar pelaku rantai pasokan agar interoperabilitas sistem dapat terjaga. Selain itu, sistem harus fleksibel menghadapi perubahan regulasi yang ketat terkait keamanan pangan.
Tim Universitas Raharja menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan observasi, serta melakukan analisis SWOT untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam penerapan blockchain di rantai pasokan makanan. Studi kasus fokus pada empat jenis rantai pasokan makanan dengan karakteristik berbeda, dari produksi massal hingga produk khusus untuk penanganan COVID-19.

Penelitian menunjukkan bahwa blockchain meningkatkan efisiensi, transparansi, dan mengurangi biaya dalam pengelolaan rantai pasokan makanan, terutama pada masa pandemi. Fitur seperti anti-perusakan dan pencatatan data secara permanen menjadikan blockchain sebagai teknologi yang sangat cocok untuk memonitor distribusi makanan dan menjamin kualitas produk.
Inovasi:
-
Monitoring real-time terhadap kondisi fisik produk dan lokasi geografis dapat dilakukan dengan sensor yang terhubung ke blockchain, memberikan informasi akurat dan segera kepada semua pihak terkait.
-
Standarisasi data dan antarmuka sangat krusial agar sistem keterlacakan berjalan lancar di seluruh rantai pasokan.
-
Blockchain membantu mengatasi masalah kurangnya kepercayaan antar mitra rantai pasokan melalui sistem tanpa izin (permissionless) yang terdesentralisasi.
-
Perlindungan privasi dan keamanan data menjadi fokus utama agar informasi sensitif tidak bocor ke pihak yang tidak berwenang.
Di tengah kondisi pandemi, sistem blockchain ini tidak hanya memantau distribusi bahan makanan tetapi juga dapat diadaptasi untuk aplikasi lain seperti pelacakan obat, alat medis, dan vaksin. Dengan demikian, blockchain membantu menjaga keamanan dan ketersediaan pasokan produk-produk kritis.
Penelitian ini merekomendasikan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, industri, dan akademisi, untuk membentuk konsorsium standarisasi data dan tata kelola blockchain di sektor pangan. Diperlukan pula pelatihan dan adaptasi organisasi agar mampu mengoperasikan sistem baru ini dengan efektif.
Meski teknologi blockchain sudah matang secara teknis, faktor kunci kesuksesan adalah kemauan dan kesiapan organisasi dalam merubah proses bisnis dan budaya kerja. Standarisasi regulasi nasional dan internasional juga harus terus diperbarui untuk mengakomodasi perkembangan teknologi.
Penelitian ini telah menghasilkan berbagai luaran ilmiah seperti artikel jurnal nasional dan internasional bereputasi, serta rencana implementasi prototipe blockchain untuk manajemen rantai pasokan makanan. Tim juga berencana memperluas studi ini ke bidang lain terkait teknologi blockchain dalam logistik dan kesehatan.
