IICRO 2026: Exploring AI, Neurofeedback, and Robotics for Human-Centered Well-Being – Syafira Aulia

Exploring Technology for Human Well-Being: My Experience at IICRO 2026

 

Technology is not just about innovation; it is about how we use it to make human life better.

 

Perkembangan teknologi saat ini berlangsung dengan sangat cepat dan membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Artificial Intelligence (AI), teknologi pemantauan aktivitas otak, hingga robotika mulai dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan, kesehatan, bisnis, dan aktivitas sehari-hari. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: how can we ensure that technology truly benefits humanity?

Pada 25 September 2026, saya berkesempatan mengikuti seminar 4th International Interdisciplinary Conference on Research and Innovation (IICRO 2026) yang diselenggarakan di Aula Universitas Raharja. Seminar ini mengangkat tema “Advancing Artificial Informatics Through Engineering, Psychology, and Ethics for Human-Centered Well-Being.”

 

Melalui seminar ini, saya mendapatkan wawasan dari tiga keynote speakers yang berasal dari Yaman, Malaysia, dan India. Masing-masing speaker membahas perspektif yang berbeda, mulai dari Inclusive AI dan Responsible AI, teknologi EEG dan neurofeedback, hingga penerapan AI dan robotika dalam bidang kesehatan.

 

Bagi saya, seminar ini bukan hanya kesempatan untuk mengenal perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa technological advancement should always go hand in hand with human needs, ethics, and responsibility.

 

 

1. Inclusive AI and Responsible AI: Using AI Inclusively and Responsibly

Materi pertama yang disampaikan oleh speaker dari Yaman membahas konsep Inclusive AI dan Responsible AI. Topik ini menarik karena mengingatkan saya bahwa penggunaan AI tidak cukup hanya dinilai dari kecepatan dan kemampuannya menyelesaikan pekerjaan. AI juga perlu dikembangkan agar dapat memberikan manfaat secara adil dan digunakan dengan penuh tanggung jawab.

 

Inclusive AI merupakan konsep pengembangan AI yang memperhatikan kebutuhan dan perbedaan setiap orang, termasuk bahasa, budaya, kondisi ekonomi, serta kemampuan fisik. Tujuannya adalah agar teknologi AI dapat diakses dan memberikan manfaat kepada berbagai kelompok masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu.

 

Konsep ini menjadi penting karena AI telah digunakan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, kesehatan, bisnis, dan penelitian. Jika data yang digunakan untuk melatih AI tidak mewakili keberagaman masyarakat, sistem tersebut berpotensi menghasilkan keputusan yang bias atau kurang akurat. Sebagai contoh, sistem AI dalam proses perekrutan kerja dapat memberikan hasil yang tidak adil apabila data pelatihannya tidak mewakili kandidat dari berbagai latar belakang.

 

Selain itu, speaker juga membahas pemanfaatan AI untuk mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian. Beberapa tools yang dapat digunakan antara lain Speech Notes untuk membantu mengubah ucapan menjadi teks, TTSMaker untuk mengubah teks menjadi suara, Consensus dan Connected Papers untuk membantu penelusuran referensi penelitian, serta Canva dan Gamma untuk mendukung pembuatan materi presentasi. Tools seperti Notebook dan Google Storybook juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar dan penyajian informasi.

 

Meskipun AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, hasil yang diberikan tetap perlu diperiksa. AI dapat menghasilkan informasi yang kurang tepat, sehingga pengguna tidak boleh menerima seluruh jawabannya tanpa melakukan verifikasi.

 

Hal ini berkaitan dengan konsep Responsible AI, yaitu penggunaan AI yang memperhatikan keadilan, transparansi, keamanan, privasi, dan tanggung jawab manusia. Dalam dunia pendidikan, AI seharusnya membantu guru dan mahasiswa dalam proses pembelajaran, bukan menggantikan peran dan pemikiran mereka.

 

Materi ini juga menekankan pentingnya etika. Misalnya, menggunakan AI untuk menjawab survei atau wawancara atas nama orang lain tidak tepat karena jawaban tersebut seharusnya mencerminkan pengalaman dan pendapat orang yang bersangkutan.

 

Dari materi ini, saya memahami bahwa AI memang dapat menjadi alat bantu yang bermanfaat, tetapi manusia tetap perlu berpikir kritis, memeriksa informasi, dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya. Kemampuan menggunakan AI perlu diimbangi dengan kemampuan menilai apakah hasilnya benar, relevan, dan etis.

 

2. EEG and Neurofeedback: Understanding Brain Activity and Human Emotions

Materi kedua disampaikan oleh speaker dari Malaysia yang membahas teknologi Electroencephalography (EEG), brain mapping, dan neurofeedback. Berbeda dari materi pertama yang berfokus pada penggunaan AI secara bertanggung jawab, pembahasan ini memperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mempelajari aktivitas otak serta hubungannya dengan kondisi manusia.

 

EEG merupakan teknologi yang digunakan untuk merekam aktivitas listrik otak melalui sensor yang ditempatkan pada kulit kepala. Aktivitas tersebut dapat dianalisis untuk melihat pola sinyal otak yang berubah dari waktu ke waktu. Selain EEG, terdapat quantitative EEG (qEEG), yaitu pendekatan analisis kuantitatif yang dapat menggunakan metode seperti Fast Fourier Transform (FFT) untuk menguraikan sinyal menjadi komponen frekuensi.

 

Dalam materi ini, saya juga mempelajari beberapa jenis gelombang otak, yaitu delta, theta, alpha, beta, dan gamma. Secara umum, gelombang-gelombang tersebut memiliki rentang frekuensi yang berbeda dan dapat berkaitan dengan berbagai kondisi aktivitas otak. Gelombang delta, misalnya, sering dikaitkan dengan tidur dalam, sedangkan aktivitas alpha dapat terlihat dalam kondisi rileks. Aktivitas beta sering dikaitkan dengan keadaan terjaga dan pemrosesan mental.

 

Speaker juga memperkenalkan NEPIA (Neurophysiological Interface of Affect), yang berkaitan dengan pemahaman hubungan antara aktivitas fisiologis dan emosi. Dalam pembahasannya, emosi dapat dipahami melalui dua dimensi, yaitu valence dan arousal. Valence menggambarkan apakah suatu pengalaman emosional terasa menyenangkan atau tidak menyenangkan, sedangkan arousal menunjukkan tingkat aktivasi atau gairah yang menyertainya.

 

Selanjutnya, terdapat SLORETA, sebuah metode yang dapat digunakan untuk memperkirakan sumber aktivitas listrik otak berdasarkan data EEG dan menghasilkan pemetaan aktivitas otak. Hasil analisis tersebut dapat membantu peneliti memahami aktivitas pada wilayah otak tertentu, meskipun interpretasinya tetap memerlukan kehati-hatian.

 

Materi ini juga membahas neurofeedback atau brain training. Secara umum, neurofeedback menggunakan umpan balik berdasarkan pengukuran aktivitas otak untuk membantu seseorang mempelajari pola regulasi aktivitas otaknya melalui latihan.

 

Menurut saya, materi ini menarik karena menunjukkan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk mempelajari hubungan antara aktivitas otak, emosi, dan konsentrasi. Saya juga menyadari bahwa teknologi tidak hanya digunakan untuk memproses data digital, tetapi dapat membantu manusia memahami dirinya sendiri melalui pendekatan ilmiah.

 

3. AI in Healthcare and Robotics: Technology for Better Human Well-Being

Materi ketiga disampaikan oleh speaker dari India yang membahas penerapan AI dalam bidang kesehatan dan robotika. Materi ini memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi dapat digunakan untuk mendukung keselamatan, pelayanan kesehatan, dan kehidupan sehari-hari.

 

Salah satu penerapan AI yang dibahas adalah deteksi kelelahan (fatigue detection) melalui video wajah. Dalam prosesnya, video dapat dipecah menjadi sejumlah frame untuk dianalisis menggunakan sistem AI. Informasi dari gambar tersebut dapat digunakan untuk mengenali tanda-tanda yang berkaitan dengan kelelahan. Teknologi seperti ini berpotensi membantu meningkatkan keselamatan, terutama dalam situasi yang membutuhkan konsentrasi tinggi, seperti berkendara. Namun, hasil deteksi tetap perlu dipahami sesuai kemampuan dan keterbatasan sistem.

 

Selain itu, speaker menjelaskan potensi penggunaan teknologi untuk mendeteksi tanda-tanda gangguan akibat alkohol secara non-invasif. Penerapan semacam ini dapat mendukung upaya keselamatan, misalnya dalam konteks berkendara. Meskipun demikian, hasil dari sistem pendeteksi tetap perlu divalidasi dan tidak boleh dianggap sebagai bukti pasti tanpa pemeriksaan yang sesuai.

 

Dalam bidang pelayanan kesehatan, AI dan robotika juga mulai dimanfaatkan untuk membantu proses pemeriksaan pasien. Robot dapat berinteraksi dengan pasien menggunakan bahasa tertentu dan membantu melakukan pemeriksaan awal, seperti pengukuran tekanan darah dan suhu tubuh. Dengan dukungan teknologi, beberapa tahapan pelayanan berpotensi menjadi lebih efisien dan membantu mengurangi beban pekerjaan petugas kesehatan.

 

Penerapan robotika juga dapat membantu orang lanjut usia. Robot yang dirancang untuk berinteraksi dengan manusia dapat menemani, mengajak berbicara, memberikan hiburan, dan membantu aktivitas tertentu di rumah. Kehadiran teknologi ini berpotensi mendukung aktivitas sehari-hari dan memberikan pendampingan, meskipun tidak sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan hubungan sosial dan perhatian dari manusia.

 

Pada akhir pembahasan, speaker menekankan pentingnya mengikuti perkembangan teknologi. Beberapa bidang yang memiliki potensi perkembangan besar antara lain Artificial Intelligence, robotika, keamanan (security), dan blockchain.

 

Sebagai mahasiswa Business Digital, saya melihat bahwa perkembangan teknologi tersebut membuka peluang untuk mempelajari berbagai inovasi yang dapat diterapkan dalam dunia bisnis maupun pelayanan masyarakat. Namun, penerapannya tetap harus mempertimbangkan kebutuhan pengguna, keamanan, dan manfaat nyata yang dihasilkan.

 

4. Personal Reflection: Technology Should Be Human-Centered

 

Setelah mempelajari ketiga materi dari seminar IICRO 2026, saya menyadari bahwa teknologi memiliki hubungan yang erat dengan berbagai aspek kehidupan manusia. Inclusive AI mengajarkan pentingnya keadilan dan aksesibilitas, EEG dan neurofeedback memperlihatkan bagaimana teknologi dapat membantu memahami aktivitas otak, sedangkan AI dan robotika menunjukkan potensi inovasi dalam mendukung kesehatan dan aktivitas sehari-hari.

 

Hal yang paling berkesan bagi saya adalah bahwa kecanggihan teknologi tidak selalu menjadi ukuran utama keberhasilannya. Teknologi juga perlu mempertimbangkan kebutuhan manusia, keamanan, etika, serta dampak yang ditimbulkan. Sebuah inovasi akan lebih bermakna apabila mampu memberikan manfaat nyata tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan.

 

Dari ketiga materi tersebut, saya mendapatkan perspektif baru bahwa perkembangan teknologi perlu berjalan seiring dengan pemahaman terhadap manusia. Teknologi bukan sekadar alat untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat, tetapi juga sarana untuk menciptakan solusi yang bermanfaat, adil, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

 

Mengikuti seminar IICRO 2026 memberikan saya pemahaman baru bahwa teknologi memiliki potensi besar untuk membantu manusia, mulai dari mendukung proses pembelajaran hingga meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Materi dari ketiga keynote speakers juga menunjukkan bahwa setiap inovasi memiliki manfaat sekaligus tantangan yang perlu dipahami.

 

Sebagai mahasiswa Business Digital Universitas Raharja, saya menyadari bahwa memahami teknologi bukan hanya tentang mengetahui cara menggunakannya, tetapi juga tentang memahami permasalahan yang ingin diselesaikan dan dampaknya bagi masyarakat. Oleh karena itu, kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, serta menggunakan teknologi secara etis menjadi hal yang penting untuk terus dikembangkan.

 

This seminar reminded me that the future is not only about creating smarter technology, but also about making wiser decisions in how we use it.

 

Saya berharap wawasan yang diperoleh dari seminar ini dapat menjadi bekal untuk terus belajar, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, baik dalam kegiatan akademik maupun dalam perjalanan karier saya di bidang Business Digital.

 

Because technology becomes truly meaningful when innovation serves humanity.

Previous Post Previous Post

Leave a comment