Jawaban UTS-Hash-Sanda Ramadhaning Ratri-2481416805

SOAL UTS – Hash, Privasi Data Medis, dan Keamanan Informasi

Sebuah platform kesehatan digital menyimpan data pasien dengan metode sebagai berikut:

  • Nomor identitas → hash

  • Email → hash

  • Data medis → enkripsi

Terjadi insiden keamanan di mana pihak luar dapat melakukan re-identification attack dengan mencocokkan hash, pola data kunjungan, dan informasi publik.

Tugas kamu adalah menjawab pertanyaan berikut dengan bahasa kamu sendiri, bukan definisi textbook atau salinan teori umum. Gunakan pemikiran pribadi, contoh buatan sendiri, dan logika kamu. Jawaban generik atau terindikasi bantuan otomatis tidak akan dinilai.

Jawaban: 

1. Hashing saja tidak cukup karena hash bersifat tetap dan bisa ditebak. Misalnya, jika saya tahu NIK seseorang: 1234567890123456, saya bisa membuat hash-nya sendiri dan mencocokkannya dengan hash di database namun akan langsung ketahuan data siapa itu. Selain itu, pola data kunjungan bisa dicocokkan dengan informasi publik (misalnya seseorang sering posting jadwal kontrol), sehingga identitas pasien tetap bisa ditebak. Jadi, hash hanya menyamarkan bentuk data, bukan benar-benar melindunginya.

2. Jawaban no 2

A. Hash lebih tepat digunakan:
Contohnya saat menyimpan password pengguna di sistem login. Server hanya perlu tahu apakah password yang dimasukkan cocok, bukan apa isi password aslinya. Jadi password diubah jadi hash, lalu saat login, hash dari input dibandingkan. Hash cocok –> akses diberikan. Ini aman karena walau database bocor, password asli tetap tidak bisa dikembalikan dari hash.

B. Enkripsi lebih tepat digunakan:
Misalnya untuk data medis pasien seperti hasil lab atau riwayat penyakit. Data ini harus bisa dibaca lagi oleh dokter, jadi perlu metode yang bisa dibuka kembali (didekripsi). Kalau pakai hash, datanya hilang selamanya dan tidak bisa digunakan. Karena itu enkripsi lebih tepat agar data tetap rahasia tapi masih bisa diakses oleh pihak berwenang.

3.

Data buatan (fiktif, 4 baris)

  1. H(NIK)=hash_1 | H(email)=hash_a | ENC(med)=enc_1 | umur=72 | tgl=2025-03-12 | RS=RS Alila | pemeriksaan=kolonoskopi

  2. H(NIK)=hash_2 | H(email)=hash_b | ENC(med)=enc_2 | umur=34 | tgl=2025-03-12 | RS=Klinik Kota | pemeriksaan=USG-kehamilan

  3. H(NIK)=hash_3 | H(email)=hash_c | ENC(med)=enc_3 | umur=47 | tgl=2025-02-28 | RS=RS Alila | pemeriksaan=angiografi

  4. H(NIK)=hash_4 | H(email)=hash_d | ENC(med)=enc_4 | umur=72 | tgl=2025-01-05 | RS=Poliklinik Sehat | pemeriksaan=kontrol-diabetes

Penyerang sering mencari petunjuk di sumber publik — misalnya postingan media sosial keluarga, pengumuman komunitas, atau foto yang menandai lokasi rumah sakit/klinik dan tanggal tertentu. Ketika mereka menemukan tulisan seperti “terima kasih RS Alila, ayah dirawat 12 Mar 2025” atau foto hasil USG yang diberi tag Klinik Kota, potongan informasi itu mudah dipasangkan dengan baris data yang memiliki umur, tanggal kunjungan, dan lokasi sama, sehingga hash anonim bisa dipetakan kembali ke identitas nyata.

Semakin unik kombinasi atribut (umur yang relatif spesifik + tanggal kunjungan tepat + lokasi + jenis prosedur), semakin tinggi kemungkinan kecocokan yang meyakinkan. Artinya, meskipun NIK dan email di-hash dan catatan medis terenkripsi, pola-pola sekunder yang tampak sepele bisa menjadi “sidik jari” — satu kombinasi langka cukup untuk mengungkap siapa pasien itu.

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

Leave a comment