Jawaban UTS Hash- Solahudin-2381477365

1. Hashing saja tidak cukup karena hasil hash bisa dicocokkan dengan data dari sumber lain. Misalnya, jika seseorang punya daftar nama dan tanggal lahir pasien dari sumber publik, mereka bisa mencoba membuat hash data itu dan membandingkannya dengan hash di sistem. Jika cocok, identitas pasien bisa diketahui meski datanya sudah di-hash.

2. A. Hash lebih tepat digunakan:

Saat menyimpan password pengguna di sistem login. Hash digunakan karena sistem hanya perlu memverifikasi kecocokan, bukan membaca ulang password asli. Ini lebih aman karena jika database bocor, password asli tidak bisa dilihat.

B. Enkripsi lebih tepat digunakan:

Saat menyimpan data medis pasien yang perlu dibaca ulang oleh dokter. Enkripsi dipakai karena datanya harus bisa didekripsi kembali untuk dilihat atau diperbarui, berbeda dengan hash yang tidak bisa dikembalikan ke bentuk aslinya.

3. Berikut contoh 4 baris data buatan

Usia: 42, Jenis kelamin: F, Tgl kunjungan: 2025-05-12, Poli: Kardiologi, Pemeriksaan: ECG abnormal.

Usia: 29, Jenis kelamin: M, Tgl kunjungan: 2025-05-12, Poli: Bedah, Pemeriksaan: jahit luka tangan.

Usia: 67, Jenis kelamin: F, Tgl kunjungan: 2025-04-30, Poli: Geriatri, Pemeriksaan: cek tekanan darah tinggi.

Usia: 35, Jenis kelamin: M, Tgl kunjungan: 2025-05-01, Poli: Kandungan, Pemeriksaan: USG kehamilan.

Contoh logika singkat penyerang: jika seseorang mem-posting di medsos “kontrol jantung 12 Mei di RS X” dan hanya ada satu pasien wanita ~42 tahun yang tercatat kunjungan kardiologi pada 2025-05-12, maka baris (1) mudah dicocokkan dan identitas terungkap.

4. Untuk melindungi data pasien, saya akan menerapkan strategi defense-in-depth dengan beberapa lapisan keamanan. Pertama, setiap data sensitif yang di-hash akan diberi salt dan pepper agar hasil hash berbeda meskipun datanya sama, sehingga sulit ditebak atau dicocokkan oleh penyerang. Kedua, sistem akan menerapkan pseudonymization, yaitu mengganti identitas asli pasien seperti nama atau NIK dengan kode acak agar data medis tetap bisa digunakan tanpa langsung mengungkap identitas. Ketiga, dilakukan pembatasan akses internal, di mana hanya petugas yang benar-benar membutuhkan data tertentu yang dapat mengaksesnya, dan akses tersebut diatur berdasarkan peran (role-based access). Selain itu, sistem akan memiliki audit dan logging untuk mencatat semua aktivitas pengguna agar setiap akses atau perubahan data dapat dilacak bila terjadi penyalahgunaan. Terakhir, prinsip data minimization diterapkan dengan hanya menyimpan data yang benar-benar diperlukan untuk operasional, sehingga risiko kebocoran informasi sensitif dapat ditekan seminimal mungkin.

5. Menurut saya, kebocoran hash data kesehatan jauh lebih berbahaya dibanding hash password biasa karena dampaknya bukan hanya teknis, tapi juga menyangkut martabat dan kepercayaan seseorang. Jika hash password bocor, orang masih bisa mengganti password dan masalahnya selesai secara teknis. Namun, jika hash data kesehatan bocor, informasi sensitif seperti riwayat penyakit atau kondisi pribadi bisa dicocokkan dengan sumber lain dan mengungkap identitas pasien. Dari sisi etika, ini melanggar hak privasi pasien dan bisa membuat mereka kehilangan rasa aman terhadap lembaga medis. Dari sisi sosial, data tersebut bisa menimbulkan stigma, misalnya jika seseorang diketahui punya penyakit tertentu. Sementara dari sisi reputasi, pasien bisa dirugikan di tempat kerja, lingkungan sosial, bahkan asuransi. Jadi menurut saya, perlindungan data kesehatan harus jauh lebih ketat karena menyangkut kehormatan dan kehidupan pribadi seseorang, bukan sekadar keamanan akun.

shortlink disini

Kode QR

Previous Post Previous Post
Newer Post Newer Post

Leave a comment