Universitas Raharja menjalankan kegiatan Tridharma dengan melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat berupa pengembangan Produk UMKM, yang nantinya hasil penjualan dari produk tersebut akan disalurkan atau di donasikan ke sasaran yang telah ditentukan yaitu Yayasan Sayap Ibu. Dalam kegiatan ini mahasiswa terlibat untuk berperan aktif, karena diharapkan mampu memberikan kreativitas dan inovasi pada produk yang akan dijalankan. Tentu saja hal ini juga dapat membuat mahasiswa terlatih untuk menjadi entrepreneur unggul, dengan mendapat pelatihan, serta seminar-seminar yang berkaitan dengan hal ini, sehingga di masa depan apabila mereka ingin membuka usaha terutama dibidang makanan, mereka sudah memiliki pengalaman mengenai itu. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dapat berupa kegiatan kewirausahaan dengan mengandalkan kreativitas yang bersumber dari kebudayaan, tradisi dan juga gaya hidup yang sedang terjadi sekarang di Indonesia.
Kegiatan kewirausaahan yang akan dijalankan yaitu pengembagan produk UMKM Bisnis Digital Universitas Raharja. Dimana UMKM menjadi bagian di dalam industri yang berfokus pada kegiatan yang menghasilkan suatu inovasi dan kreasi yaitu Industri kreatif merupakan bagian dalam UMKM yang berfokus pada kegiatan berkreasi dan berinovasi. Kegiatan ini sangat berperan penting untuk menumbuhkan rasa kepedulian sosial setiap orang sehingga memberikan pengaruh positif dilingkungan sekitarnya untuk ikut peduli sesama dan bertujuan meningkatkan ketentraman masyarakat, memperbaiki atau membantu memberikan fasilitas layanan yang dibutuhkan oleh masyarakat, terutama yayasan disabilitas dan yang menjadi target dari kegiatan ini diadakan.

Yayasan Sayap Ibu merupakan salah satu yayasan yang berdiri yang memberikan perlindungan kepada anak-anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Anak anak yang berada di yayasan sayap ibu merupakan anak anak yang ditelantarkan, ditemukan, dititipkan oleh orang tua kandungnya. Yayasan Sayap Ibu Banten atau Yayasan Sayap Ibu Bintaro merupakan cabang dari Yayasan Sayap Ibu, disana menampung anak-anak disabilitas yang ditelantarkan oleh orang tua kandungnya. Yayasan ini lahir karena inisiatif istri dari Jenderal Besar Nasution. Hal ini dilakukan karena mereka menyadari bahwa anak-anak non disabilitas memiliki kemungkinan melakukan kebiasaan yang dilakukan anak-anak disabilitas. Tentu hal ini akan berdampak pada psikologis anak-anak non disabilitas.
Oleh karena itu Yayasan Sayap Ibu Bintaro didirikan agar mereka fokus dalam melakukan perawatan serta perlindungan kepada anak-anak disabilitas ganda terlantar, dan memastikan bahwa anak-anak tersebut terpenuhi hak dasarnya. Mereka juga melakukan pendidikan khusus serta melakukan rehabilitas yang dapat meningkatkan rasa kemandirian dan kemampuan anak-anak tersebut. Anak-anak yang dinaungi saat ini sudah lebih dari 487 anak, yang menderita Down Syndrome, Microcephaly, Hydrocephalus, Cerebral Palsy, Autisme dan lainnya menjadi anak yang dibina dan dirawat di yayasan ini. Dalam perkembangan yang terjadi pada setiap anak sangatlah berbeda, disana juga terdapat anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri, kesulitan dalam berkonsentrasi, tidak dapat membaca, anak anak disabilitas disana terbilang cukup unik dan memiliki cara masing masing untuk belajar, dan bertumbuh kembang diantaranya terdapat anak yang memiliki keunikan dan perbedaan yang cukup besar dibandingkan dengan anak anak pada umumnya (anak normal). Mereka sangat membutuhkan dukungan yang lebih banyak untuk dapat membaca, menulis, berhitung dan penyesuaian diri di kelas serta menghindari kebosanan yang mudah sekali pada mereka. anak anak seperti ini dapat digolongkan sebagai siswa dengan kebutuhan khusus sehingga pembelajarannya membutuhkan program pendidikan yang khusus pula terutama dalam hal karakteristik mental, kemampuan sensor, kemampuan komunikasi, perkembangan perilaku dan emosi.
Penjualan melalui media sosial Instagram

Strategi penjualan produk ini memanfaatkan teknologi yang terus berkembang di era ini, yaitu dengan menggunakan media sosial Instagram. Hal ini dipilih dan disepakati karena menyadari bahwa media sosial Instagram menjadi tempat dan wadah yang bagus serta strategis dalam melakukan penjualan produk. Tidak hanya itu, penjualan produk melalui Instagram juga diharapkan membuat produk ini dikenal oleh banyak orang, tidak hanya lingkungan kampus saja. Sehingga semakin banyak orang dapat berpartisipasi serta berkontribusi untuk melakukan donasi. Gambar 3. memperlihatkan postingan awal penjualan produk ini
Penjualan offline
Strategi penjualan produk offline ini yaitu dengan berjualan menawarkan kepada lingkungan terdekat di sekitar seperti keluarga, kerabat, dan tetangga. Hal ini dipilih karena untuk mengajak masyarakat yang mungkin tidak memiliki sosial media, mengajak mereka untuk menikmati kopi sambil berdonasi. Tidak hanya itu penjualan melalui offline ini juga diharapkan untuk lingkungan terdekat mengenal produk tersebut. Secara tidak langsung mengajak mereka untuk ikut berpartisipasi dalam melakukan donasi.
Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang juga telah diterbitkan dalam Jurnal Adimas terindeks SINTA 5. Selain sebagai bentuk kegiatan sosial, penggalangan dana digital ini juga menjadi upaya membangun solidaritas sosial yang didukung oleh kemajuan teknologi digital di era saat ini.
