saya ingin punya usaha sendiri, tapi modal saya terbatas. Saya hanya punya uang tabungan yang tidak banyak.
Saya suka bubur ketan hitam. Dari situ saya berpikir, kenapa tidak saya jual saja?
Saya mulai dari yang ada. Saya beli ketan hitam, gula merah, santan, dan es krim secukupnya, lalu menyiapkan cup dan sendok. Saya berjualan dengan gerobak sederhana, tanpa kios dan tanpa karyawan.
Hari pertama, hanya beberapa cup yang terjual. Saya sempat lelah, tapi saya tidak menyerah. Saya mengurangi rasa manisnya dan menambah topping seperti eskrim
Pelan-pelan, pelanggan mulai datang lagi dan mengajak teman mereka. Tapi saya sadar, kalau hanya menunggu pembeli lewat, usaha saya sulit berkembang. Saya butuh cara agar lebih banyak orang tahu.
Karena modal promosi saya hampir tidak ada, saya memakai media sosial yang gratis. Saya membuat akun Instagram dan TikTok untuk usaha saya. Dengan HP sendiri, saya merekam video sederhana: saat bubur dimasak, saat es krim ditaruh di atas bubur hangat, dan saat pelanggan mencicipi. Saya tidak memakai alat mahal, cukup cahaya matahari dan tangan sendiri.
Di Instagram, saya mengunggah foto produk dan membuat story setiap hari berjualan, lengkap dengan lokasi dan jam buka. Di TikTok, saya membuat video pendek yang menunjukkan proses pembuatan. Awalnya hanya beberapa orang yang menonton. Tapi saya terus konsisten mengunggah, dan saya memakai kata-kata sederhana seperti nama daerah saya di keterangan video.
Dari keuntungan yang sedikit, saya tabung dan putar kembali untuk usaha, termasuk untuk membeli kemasan yang lebih rapi agar foto dan video saya makin menarik.
Sekarang usaha saya sudah berjalan. Dari sini saya belajar bahwa memulai usaha tidak harus dengan modal besar. Yang penting berani mencoba, menjaga rasa, mau terus belajar, dan memanfaatkan media sosial dengan cara yang sederhana.
